Situasi di Israel semakin memanas setelah serangan balasan dari kelompok Houthi, yang mengklaim telah menembus Ibu Kota Israel. Serangan ini merupakan respons terhadap tindakan agresif Negeri Zionis yang terus menerus menimbulkan penderitaan bagi warga Gaza. Negara-negara besar seperti Spanyol dan Arab Saudi menunjukkan kepeduliannya dengan siap memberikan bantuan kepada Palestina.
Kekacauan di Israel semakin terasa setelah serangan udara dari Israel ke Jalur Gaza, yang menyebabkan lebih dari 1000 jiwa menjadi korban dan membuat penduduk tidak bisa merayakan Idul Fitri dengan tenang. Benjamin Netanyahu bahkan meresmikan 28 pemukiman baru di Tepi Barat, yang semakin memperburuk kondisi warga Palestina, dengan banyak yang mengalami kelaparan.
Sebagai respons, kelompok Houthi melancarkan serangan rudal balistik ke Yerusalem dan Tel Aviv, menimbulkan kepanikan di kalangan penduduk Israel. Setidaknya dua orang dilaporkan terluka akibat panik mencari tempat perlindungan. Houthi juga berhasil menyerang drone MQ-9 milik Amerika Serikat, yang menambah kerugian bagi negeri Paman Sam.
Di tengah situasi ini, Arab Saudi mengutuk keras serangan Israel dan menyerukan gencatan senjata. Mesir juga mendesak Israel untuk menyetujui usulan gencatan senjata yang melibatkan pembebasan sandera. Namun, Israel tampaknya mengabaikan seruan ini dan malah menuntut pembebasan sandera baru.
Ketidakpuasan di dalam negeri Israel semakin meningkat, dengan warga turun ke jalan meminta Netanyahu menghentikan serangan ke Gaza. Di sisi lain, Spanyol juga mengecam tindakan Israel yang dianggap melanggar hak asasi manusia.
Dengan kondisi yang semakin kacau, banyak pihak mempertanyakan masa depan Israel dan dampaknya terhadap stabilitas di Timur Tengah. Apakah Negeri Zionis akan belajar dari kesalahan ini? Pertanyaan ini menjadi sorotan utama di kalangan pengamat internasional.